Minggu, 13 Maret 2016

sejarah munculnya pembelajaran kooperatif learning



Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky.  Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama, dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988: 181, dalam Abdul Majid).
Dalam pembelajaran kooperatif, guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa, tetapi harus membangun dalam pikirannya juga. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan langsung dalam menerapkan ide-ide mereka. Hal ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri.
Piaget dan Vigotsky mengemukakan adanya hakikat sosial pada sebuah proses belajar, juga mengemukakan tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggota-anggotanya yang beragam sehingga terjadi perubahan konseptual. Piaget menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif dan pengetahuan di susun dalam pemikiran siswa. Oleh karena itu, belajar adalah tindakan kreatif di mana konsep dan kesan dibentuk dengan memikirkan objek dan peristiwa, serta bereaksi dengan objek dan peristiwa tersebut.
Selain aktivitas dan kreativitas yang diharapkan dalam sebuah proses pembelajaran, juga dituntut interaksi yang seimbang. Interaksi yang dimaksud adalah adanya interaksi atau komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, dengan harapan terjadi komunikasi multi arah dalam proses pembelajaran.
Pandangan konstuktivisme Piaget dan Vigotsky dapat berjalan berdampingan dalam proses pembelajaran konstruktivisme. Piaget yang menekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman yang dimiliki orang tersebut, sedangkan konstruktivisme Vigotsky menenkankan pada interaksi sosial dan melakukan konstruksi pengetahuan dari lingkungan sosialnya. Berkaitan dngan karya Vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivis menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya melalui pembentukan kelompok belajar, dan siswa diberikan kesempatan secara aktif untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan kepada temannya. Hal itu akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan jelas, bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.

B.     Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning
 Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Pada hakikatnya, pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang menyatakan tidak ada sesuatu yang aneh dala cooperative learing, karena mereka telah biasa melakukan pembelajaran cooperative learning dalam bentuk belajar kelompok, walaupun tidak semua belajar kelompok disebut cooperative learning .
Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru (multi way traffic communication). Dalam model ini, siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri.
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakuan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling belajar dengan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh rekan sebaya lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru.

C.      Sintak model pembelajaran  Cooperative Learning
Terdapat enam langkah utama atau tahapan cooperative learning, yaitu:
1.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
2.      Guru menyampaikan informasi dan bahan bacaan kepada siswa.
3.      Siswa dikelompokkan dalam tim-tim belajar
4.      Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas
5.      Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6.      Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atu hasil belajar individu maupun kelompok.

D.    Model pembelajaran  Cooperative Learning tipe Jigsaw
Ditinjau dari sisi etimologi, jigsaw berasal dari bahasa inggris yang berarti “gergaji ukir”. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah fuzzle yaitu sebuah teka-teki yang menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (jigsaw) yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti yang diungkapkan Lie (1993:73) bahwa pembelajaran kooperatif  tipe jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6 orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif, serta bertanggung jawab secara mandiri. Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain mendapat tugas topik yang sama,yakni berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli

E.     Sintak model pembelajaran  Cooperative Learning tipe Jigsaw
Menurut Stepen, Sikes dan Snapp (1978) yang dikutip Rusman (2008), mengemukakan langkah-langkah cooperative tipe jigsaw sebagai berikut:
1.      Siswa dikelompokkan sebanyak 1 sampai 5 orang siswa.
2.      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.
3.      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
4.      Anggota dari tim yang berbeda telah mempelajari sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
5.      Setelah selesai diskusi, sebagai tim ahli tiap anggota kembali kepada kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu timnya tentang sub bab yang mereka kuasai, dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama.
6.      Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.      Guru memberi evaluasi
8.      Penutup

Adapun kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:

1.         Melakukan kegiatan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan infornmasi untuk poermasalahan tersebut.
2.         Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok, atau disebut dengan kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalahn tersebut.
3.         Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan hasil yang didapatkan dari diskusi tim ahli.
4.         Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.
5.         Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok.

F.      Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki kelebihan dan kekurangan (Ibrahim, dkk. 2000:70-71). Di antara kelebihannya adalah:
1.        Dapat memberikan kesempataan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lainnya
2.        Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan
3.        Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya
4.        Dalam proses belajar mengajar, siswa saling ketergantungan positif
5.        Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.

tujuan perndidikan Islam



TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nila-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang di inginkan.
Nilai-nilai itu mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriyahnya. Dengan kata lain perilaku lahiriah adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai ideal yang telah memacu di dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan.
Jika kita berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti bicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas islami sedang idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
Ketaatan kepada kekuasaan Allah yang mutlak itu mengandung makna penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan diri secara total kepada Allah Yang Maha Esa menjadikan manusia menghambakan dirinya kepada-nya semata.
Bila manusia telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah (khaliknya) berarti telah berada di dalam dimensi kehidupan yang mensejahterakan di dunia dan membahagiakan di akhirat. Inilah tujuan pendidikan Islam yang optimal sesuai doa kita sehari-hari yang selalu kita panjatkan setiap waktu :
ر بنا ا تنا فى ا لد نيا حسنة و فى ا لا ا خر ة  حسنة و قنا عذ ا ب ا لنا ر
Adapun dimensi kehidupan yang mengandung nilai ideal Islami dapat kita kategorikan kedalam tiga macam sebagai berikut :
1.      Dimensi yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia. Dimensi nilai kehidupan ini mendorong kegiatan manusia untuk mengelolah dan memanfaatkan dunia ini agar menjadi bekal atau sarana bagi kehidupan di akhirat.
2.      Dimensi yang mengandung nilai mendorong manusia berusaha keras untuk raih kehidupan di akhirat yang membahagiakan. Dimensi ini menurut manusia untuk tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimilki, namun kemelaratan atau kemiskinan di dunia harus diberantas, sebab  kemelaratan duniawi bisa menjadi ancaman yang menjerumuskan manusia kepada kekufuran.
3.      Dimensi yang mengandung nilai dapat memajukan atau mengintegrasikan antara kepentingan hidup duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan hidup ini menjadi daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai gejolak kehidupan yang menggoda ketengan hidup manusia, baik yang bersifat spiritual, sosial, kultural, ekonomis maupun idiologis dalam hidup pribadi manusia.
Nilai-nilai Islam yang fundamental yang mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat tidak berkecendrungan untuk merubah mengikuti selerah nafsu manusia yang berubah-ubah sesuai tuntutan perubahan sosial. Nilai-nilai Islami yang absolut dari Tuhan itu sebaliknya akan berfungsi sebagai pengendali atau pengarah terhadap tuntutan perubahan sosial dan tututan individual.
Konfigurasi dari nilai-nilai Islami mungkin dapat mengalami perubahan, namun secara interistik nilai tersebut tetap berubah, sebab bila secara interistik ,nilai tersebut berubah, maka makna kewahyuan ( revillatif) dari sumber nilai yang berupa kitab suci Al-Quran, akan mengalami kerusakan.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembagkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islami yang bersumber dari kitab suci Ai-Quran dan Al-Quran dan Al-Hadist. Dan sejalan dengan tututan kemajuan atau moderenisasikehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat,  pendidkan Islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasainya. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan contoh sebagai berkut:
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya  nilai-nilai islami yang bersumber dari kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan dalam nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan contoh sebagai berikut.
Pada zaman Nabi dahulu belum dijumpai adanya teknologi canggi dibidang informasi dan tranfortasi, sehingga didalam firman-firman Allah dan sabda Nabi sendiri belum secara eksplisit memberikan tuntunan tentang penggunaan alat teknologis yang akhir-akhir ini telah membanjir ke tenggah kehidupan masyarakat kita. Apakah wajar bila mana umat islam dilarang untuk memanfaatkan hasil teknologi seperti kapal terbang zet untuk pengagkutan jemaah haji ke tanah suci; dan apakah kita diharamkan menggunakan teknologi informatika seperti alat-alat pengeras suara,Radio, Vidio dan sebagainya.
Nilai Islam yang seharusnya dikembang tumbukan dalam pribadi anak didik melalaui proses kependidikan adalah berwatak fleksibel dan dinamis dalam konfirgurasi normati yang tak berubah sepanjang masa.
Dengan demikian,  pendidikan islam bertugas disamping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengalaman nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfirgurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti pendidikan islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan”dalam beriman dan bertakwa  dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi  pemikir yang sekaligus  pengamal ajaran Islam. Yang dia logis  terhadap perkembangan kemajuan zaman.  Denaga kata lain. Pendidikan Islam harus mampu menciptakan para mujtahid’’ baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengontakkan antara kedua bidang itu.  
Tujuan ialah suatu yang di harapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya
Rumusan tujuan pendidikan Islam mungkin dapat dibuat, dasar kehidupan adalah pandangan hidup. Menurut T.S Eliot menyatakan bahwa pendidikan yang amat penting itu tujuannya harus di ambil dari pandangan hidup.
Beberapa pendapat para ahli :
  1. Al-Attas menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik, ini terlalu umum.
  2. Marimba berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim, ini pun masih terlalu umum.
  3. Al-Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia. Ini juga amat umum.
  4. Munir Mursyi menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna, ini pun terlalu umum.
  5. Abdul fatah Jalal berpendapat bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.
  6. penulis berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang berbudi pekerti luhur supaya menjadi manusia yang sempurna guna menghambakan diri kepada Allah
Islam menghendaki agar manusia di didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah di gariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah, ini sesuai dengan QS ad-Dzariyat : 56
Artinya :  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
            Beberapa orang di antara muslim harus ada yang tidak mempelajari sekedarnya saja, tetapi harus mempelajarinya secara luas dan dalam. Ini disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 122, yang artinya :
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara kalian beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali (dari perang) supaya mereka dapat menjaga dirinya.”
Dalam ayat ini, pengetahuan tentang agama adalah pengetahuan tentang Al Quran dan hadits, terutama tentang ke lima rukun Islam. Jadi pengetahuan tentang al-Qur’an dan Hadist, jelad harus menjadi salah satu tujuan pendidikan.
            Muhammad Quthb (1988 :17), tatkala membicarakan tujuan pendidikan menyatakan bahwa tujuan pendidikan lebih penting dari pada sarana pendidikan. Sarana pendidikan pasti berubah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Akan tetapi tujuan pendidikan tidak berubah.
Menurut Quthb (1988 : 21), tujuan umum pendidikan adalah manusia yang taqwa, itulah manusia yang baik menurutnya.
Ada tiga pembagian tentang pembinaan yang pertama :
1 Pembinaan akhlak ,akhlak  mulia siswa setidaknya mengarah pada dua hal, seperti yang diungkapkan John Clark bahwa pendidikan moral (akhlak).” Dengan demikian, jelas bahwa disebutkan dalam pembinaan akhlak itu minimal berkaitan dengan akuisisi kedua kualitas pribadi yang ditandai dengan kepemilikan kebajikan (misalnya, kepedulian, jujur, setia) dan menjauhkan diri dari kejahatan (misalnya, keserakahan, nafsu, berbohong).
Tujuan pembinaan akhlak mulia siswa berkaitan erat dengan tujuan pendidikan Islam. Ini erat kaitannya dengan tujuan inti dari pendidikan Islam yaitu membentuk akhlak mulia siswa berdasarkan ajaran kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Dalam pendidikan Islam terdapat empat tahapan tujuan yaitu: 1) tujuan tertinggi/terakhir, 2) tujuan umum, 3) tujuan khusus,
2Tujuan Pendidikan Jasmani (al-Ahdaf al-Jismiyah)
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi, melalui keterampilan-keterampilan fisik. Ia berpijak pada pendapat dari Imam Nawawi yang menafsirkan “al-qawy” sebagai kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik, (QS.al-Baqarah : 247, al-Anfal :60).
                 3  Tujuan Pendidikan Rohani (al-Ahdaf al-Ruhaniyah)
Meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepada Allah SWT semata dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi SAW dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam al-Qur’an (QS. Ali Imran : 19). Indikasi pendidikan rohani adalah tidak bermuka dua ( QS. Al-Baqarah : 10), berupaya memurnikan dan menyucikan diri manuisa secara individual dari sikap negatif (QS al-Baqarah : 126)
            4 Pembinana seni persoalan pengabaian pokok seni budaya islam tersebut tidak lain karena derasnya pengaruh karya seni budaya masyarakat sekuler dan masyarakat modren yang tampak suda demikian materias  dan biologis. Tumpuan dan perhatian dan fokus dari karyaseni dan budayanya adalah kecantikan dan penampilan luar,sudah dapat dibayangkan betapa suatu proses pendidikan yang terlepas dari kebudayaan dalam masyarakat tertentu.