Minggu, 13 Maret 2016

tujuan perndidikan Islam



TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nila-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang di inginkan.
Nilai-nilai itu mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriyahnya. Dengan kata lain perilaku lahiriah adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai ideal yang telah memacu di dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan.
Jika kita berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti bicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas islami sedang idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
Ketaatan kepada kekuasaan Allah yang mutlak itu mengandung makna penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan diri secara total kepada Allah Yang Maha Esa menjadikan manusia menghambakan dirinya kepada-nya semata.
Bila manusia telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah (khaliknya) berarti telah berada di dalam dimensi kehidupan yang mensejahterakan di dunia dan membahagiakan di akhirat. Inilah tujuan pendidikan Islam yang optimal sesuai doa kita sehari-hari yang selalu kita panjatkan setiap waktu :
ر بنا ا تنا فى ا لد نيا حسنة و فى ا لا ا خر ة  حسنة و قنا عذ ا ب ا لنا ر
Adapun dimensi kehidupan yang mengandung nilai ideal Islami dapat kita kategorikan kedalam tiga macam sebagai berikut :
1.      Dimensi yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia. Dimensi nilai kehidupan ini mendorong kegiatan manusia untuk mengelolah dan memanfaatkan dunia ini agar menjadi bekal atau sarana bagi kehidupan di akhirat.
2.      Dimensi yang mengandung nilai mendorong manusia berusaha keras untuk raih kehidupan di akhirat yang membahagiakan. Dimensi ini menurut manusia untuk tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimilki, namun kemelaratan atau kemiskinan di dunia harus diberantas, sebab  kemelaratan duniawi bisa menjadi ancaman yang menjerumuskan manusia kepada kekufuran.
3.      Dimensi yang mengandung nilai dapat memajukan atau mengintegrasikan antara kepentingan hidup duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan hidup ini menjadi daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai gejolak kehidupan yang menggoda ketengan hidup manusia, baik yang bersifat spiritual, sosial, kultural, ekonomis maupun idiologis dalam hidup pribadi manusia.
Nilai-nilai Islam yang fundamental yang mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat tidak berkecendrungan untuk merubah mengikuti selerah nafsu manusia yang berubah-ubah sesuai tuntutan perubahan sosial. Nilai-nilai Islami yang absolut dari Tuhan itu sebaliknya akan berfungsi sebagai pengendali atau pengarah terhadap tuntutan perubahan sosial dan tututan individual.
Konfigurasi dari nilai-nilai Islami mungkin dapat mengalami perubahan, namun secara interistik nilai tersebut tetap berubah, sebab bila secara interistik ,nilai tersebut berubah, maka makna kewahyuan ( revillatif) dari sumber nilai yang berupa kitab suci Al-Quran, akan mengalami kerusakan.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembagkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islami yang bersumber dari kitab suci Ai-Quran dan Al-Quran dan Al-Hadist. Dan sejalan dengan tututan kemajuan atau moderenisasikehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat,  pendidkan Islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasainya. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan contoh sebagai berkut:
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya  nilai-nilai islami yang bersumber dari kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan dalam nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan contoh sebagai berikut.
Pada zaman Nabi dahulu belum dijumpai adanya teknologi canggi dibidang informasi dan tranfortasi, sehingga didalam firman-firman Allah dan sabda Nabi sendiri belum secara eksplisit memberikan tuntunan tentang penggunaan alat teknologis yang akhir-akhir ini telah membanjir ke tenggah kehidupan masyarakat kita. Apakah wajar bila mana umat islam dilarang untuk memanfaatkan hasil teknologi seperti kapal terbang zet untuk pengagkutan jemaah haji ke tanah suci; dan apakah kita diharamkan menggunakan teknologi informatika seperti alat-alat pengeras suara,Radio, Vidio dan sebagainya.
Nilai Islam yang seharusnya dikembang tumbukan dalam pribadi anak didik melalaui proses kependidikan adalah berwatak fleksibel dan dinamis dalam konfirgurasi normati yang tak berubah sepanjang masa.
Dengan demikian,  pendidikan islam bertugas disamping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengalaman nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfirgurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti pendidikan islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan”dalam beriman dan bertakwa  dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi  pemikir yang sekaligus  pengamal ajaran Islam. Yang dia logis  terhadap perkembangan kemajuan zaman.  Denaga kata lain. Pendidikan Islam harus mampu menciptakan para mujtahid’’ baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengontakkan antara kedua bidang itu.  
Tujuan ialah suatu yang di harapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya
Rumusan tujuan pendidikan Islam mungkin dapat dibuat, dasar kehidupan adalah pandangan hidup. Menurut T.S Eliot menyatakan bahwa pendidikan yang amat penting itu tujuannya harus di ambil dari pandangan hidup.
Beberapa pendapat para ahli :
  1. Al-Attas menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik, ini terlalu umum.
  2. Marimba berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim, ini pun masih terlalu umum.
  3. Al-Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia. Ini juga amat umum.
  4. Munir Mursyi menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna, ini pun terlalu umum.
  5. Abdul fatah Jalal berpendapat bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.
  6. penulis berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang berbudi pekerti luhur supaya menjadi manusia yang sempurna guna menghambakan diri kepada Allah
Islam menghendaki agar manusia di didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah di gariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah, ini sesuai dengan QS ad-Dzariyat : 56
Artinya :  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
            Beberapa orang di antara muslim harus ada yang tidak mempelajari sekedarnya saja, tetapi harus mempelajarinya secara luas dan dalam. Ini disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 122, yang artinya :
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara kalian beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali (dari perang) supaya mereka dapat menjaga dirinya.”
Dalam ayat ini, pengetahuan tentang agama adalah pengetahuan tentang Al Quran dan hadits, terutama tentang ke lima rukun Islam. Jadi pengetahuan tentang al-Qur’an dan Hadist, jelad harus menjadi salah satu tujuan pendidikan.
            Muhammad Quthb (1988 :17), tatkala membicarakan tujuan pendidikan menyatakan bahwa tujuan pendidikan lebih penting dari pada sarana pendidikan. Sarana pendidikan pasti berubah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Akan tetapi tujuan pendidikan tidak berubah.
Menurut Quthb (1988 : 21), tujuan umum pendidikan adalah manusia yang taqwa, itulah manusia yang baik menurutnya.
Ada tiga pembagian tentang pembinaan yang pertama :
1 Pembinaan akhlak ,akhlak  mulia siswa setidaknya mengarah pada dua hal, seperti yang diungkapkan John Clark bahwa pendidikan moral (akhlak).” Dengan demikian, jelas bahwa disebutkan dalam pembinaan akhlak itu minimal berkaitan dengan akuisisi kedua kualitas pribadi yang ditandai dengan kepemilikan kebajikan (misalnya, kepedulian, jujur, setia) dan menjauhkan diri dari kejahatan (misalnya, keserakahan, nafsu, berbohong).
Tujuan pembinaan akhlak mulia siswa berkaitan erat dengan tujuan pendidikan Islam. Ini erat kaitannya dengan tujuan inti dari pendidikan Islam yaitu membentuk akhlak mulia siswa berdasarkan ajaran kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Dalam pendidikan Islam terdapat empat tahapan tujuan yaitu: 1) tujuan tertinggi/terakhir, 2) tujuan umum, 3) tujuan khusus,
2Tujuan Pendidikan Jasmani (al-Ahdaf al-Jismiyah)
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi, melalui keterampilan-keterampilan fisik. Ia berpijak pada pendapat dari Imam Nawawi yang menafsirkan “al-qawy” sebagai kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik, (QS.al-Baqarah : 247, al-Anfal :60).
                 3  Tujuan Pendidikan Rohani (al-Ahdaf al-Ruhaniyah)
Meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepada Allah SWT semata dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi SAW dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam al-Qur’an (QS. Ali Imran : 19). Indikasi pendidikan rohani adalah tidak bermuka dua ( QS. Al-Baqarah : 10), berupaya memurnikan dan menyucikan diri manuisa secara individual dari sikap negatif (QS al-Baqarah : 126)
            4 Pembinana seni persoalan pengabaian pokok seni budaya islam tersebut tidak lain karena derasnya pengaruh karya seni budaya masyarakat sekuler dan masyarakat modren yang tampak suda demikian materias  dan biologis. Tumpuan dan perhatian dan fokus dari karyaseni dan budayanya adalah kecantikan dan penampilan luar,sudah dapat dibayangkan betapa suatu proses pendidikan yang terlepas dari kebudayaan dalam masyarakat tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar