TUJUAN
PENDIDIKAN ISLAM
Bila pendidikan
kita pandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada
tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh
pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nila-nilai ideal yang
terbentuk dalam pribadi manusia yang di inginkan.
Nilai-nilai itu
mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia, sehingga menggejala dalam
perilaku lahiriyahnya. Dengan kata lain perilaku lahiriah adalah cermin yang
memproyeksikan nilai-nilai ideal yang telah memacu di dalam jiwa manusia
sebagai produk dari proses pendidikan.
Jika kita
berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti bicara tentang nilai-nilai
ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan
Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas islami sedang
idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku
manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai
sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
Ketaatan kepada
kekuasaan Allah yang mutlak itu mengandung makna penyerahan diri secara total
kepada-Nya. Penyerahan diri secara total kepada Allah Yang Maha Esa menjadikan
manusia menghambakan dirinya kepada-nya semata.
Bila manusia
telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah (khaliknya) berarti
telah berada di dalam dimensi kehidupan yang mensejahterakan di dunia dan membahagiakan
di akhirat. Inilah tujuan pendidikan Islam yang optimal sesuai doa kita
sehari-hari yang selalu kita panjatkan setiap waktu :
ر
بنا ا تنا فى ا لد نيا حسنة و فى ا لا ا خر ة
حسنة و قنا عذ ا ب ا لنا ر
Adapun dimensi
kehidupan yang mengandung nilai ideal Islami dapat kita kategorikan kedalam
tiga macam sebagai berikut :
1.
Dimensi
yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia.
Dimensi nilai kehidupan ini mendorong kegiatan manusia untuk mengelolah dan
memanfaatkan dunia ini agar menjadi bekal atau sarana bagi kehidupan di
akhirat.
2.
Dimensi
yang mengandung nilai mendorong manusia berusaha keras untuk raih kehidupan di
akhirat yang membahagiakan. Dimensi ini menurut manusia untuk tidak terbelenggu
oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimilki, namun kemelaratan atau
kemiskinan di dunia harus diberantas, sebab
kemelaratan duniawi bisa menjadi ancaman yang menjerumuskan manusia
kepada kekufuran.
3.
Dimensi
yang mengandung nilai dapat memajukan atau mengintegrasikan antara kepentingan
hidup duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan
hidup ini menjadi daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai
gejolak kehidupan yang menggoda ketengan hidup manusia, baik yang bersifat spiritual,
sosial, kultural, ekonomis maupun idiologis dalam hidup pribadi manusia.
Nilai-nilai Islam yang fundamental yang mengandung kemutlakan bagi
kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat tidak
berkecendrungan untuk merubah mengikuti selerah nafsu manusia yang berubah-ubah
sesuai tuntutan perubahan sosial. Nilai-nilai Islami yang absolut dari Tuhan
itu sebaliknya akan berfungsi sebagai pengendali atau pengarah terhadap
tuntutan perubahan sosial dan tututan individual.
Konfigurasi dari nilai-nilai Islami mungkin dapat mengalami
perubahan, namun secara interistik nilai tersebut tetap berubah, sebab bila
secara interistik ,nilai tersebut berubah, maka makna kewahyuan ( revillatif)
dari sumber nilai yang berupa kitab suci Al-Quran, akan mengalami kerusakan.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan
mengembagkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islami yang bersumber dari
kitab suci Ai-Quran dan Al-Quran dan Al-Hadist. Dan sejalan dengan tututan
kemajuan atau moderenisasikehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang
meningkat, pendidkan Islam memberikan
kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup
konfigurasainya. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan contoh sebagai berkut:
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan
mengembangkan kelangsungan berfungsinya
nilai-nilai islami yang bersumber dari kitab suci Al-Quran dan
Al-Hadist. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan
masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan islam
memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan dalam nilai-nilai dalam
ruang lingkup konfigurasinya. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan contoh
sebagai berikut.
Pada zaman Nabi dahulu belum dijumpai adanya teknologi canggi
dibidang informasi dan tranfortasi, sehingga didalam firman-firman Allah dan
sabda Nabi sendiri belum secara eksplisit memberikan tuntunan tentang
penggunaan alat teknologis yang akhir-akhir ini telah membanjir ke tenggah
kehidupan masyarakat kita. Apakah wajar bila mana umat islam dilarang untuk
memanfaatkan hasil teknologi seperti kapal terbang zet untuk pengagkutan jemaah
haji ke tanah suci; dan apakah kita diharamkan menggunakan teknologi
informatika seperti alat-alat pengeras suara,Radio, Vidio dan sebagainya.
Nilai Islam yang seharusnya dikembang tumbukan dalam pribadi anak
didik melalaui proses kependidikan adalah berwatak fleksibel dan dinamis dalam
konfirgurasi normati yang tak berubah sepanjang masa.
Dengan demikian, pendidikan
islam bertugas disamping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi)
nilai-nilai islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan
pengalaman nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas
konfirgurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti pendidikan islam secara
optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau
kematangan”dalam beriman dan bertakwa
dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam. Yang dia logis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Denaga kata lain. Pendidikan Islam harus
mampu menciptakan para mujtahid’’ baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi
yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengontakkan antara kedua bidang
itu.
Tujuan ialah suatu yang di harapkan
tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena
merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan
tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan
bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu
keseluruhan dari kepribadian seseorang berkenaan dengan seluruh aspek
kehidupannya
Rumusan tujuan pendidikan Islam
mungkin dapat dibuat, dasar kehidupan adalah pandangan hidup. Menurut T.S Eliot
menyatakan bahwa pendidikan yang amat penting itu tujuannya harus di ambil dari
pandangan hidup.
Beberapa pendapat para ahli :
- Al-Attas menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik, ini terlalu umum.
- Marimba berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim, ini pun masih terlalu umum.
- Al-Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia. Ini juga amat umum.
- Munir Mursyi menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna, ini pun terlalu umum.
- Abdul fatah Jalal berpendapat bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.
- penulis berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang berbudi pekerti luhur supaya menjadi manusia yang sempurna guna menghambakan diri kepada Allah
Islam menghendaki agar manusia di
didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah di
gariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah
kepada Allah, ini sesuai dengan QS ad-Dzariyat : 56
Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Beberapa orang di antara muslim
harus ada yang tidak mempelajari sekedarnya saja, tetapi harus mempelajarinya
secara luas dan dalam. Ini disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 122, yang
artinya :
“Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara kalian beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila
mereka telah kembali (dari perang) supaya mereka dapat menjaga dirinya.”
Dalam ayat ini, pengetahuan tentang agama adalah pengetahuan tentang Al
Quran dan hadits, terutama tentang ke lima rukun Islam. Jadi pengetahuan
tentang al-Qur’an dan Hadist, jelad harus menjadi salah satu tujuan pendidikan.
Muhammad Quthb (1988 :17), tatkala
membicarakan tujuan pendidikan menyatakan bahwa tujuan pendidikan lebih penting
dari pada sarana pendidikan. Sarana pendidikan pasti berubah dari masa ke masa,
dari generasi ke generasi, bahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Akan
tetapi tujuan pendidikan tidak berubah.
Menurut Quthb
(1988 : 21), tujuan umum pendidikan adalah manusia yang taqwa, itulah
manusia yang baik menurutnya.
Ada tiga
pembagian tentang pembinaan yang pertama :
1 Pembinaan
akhlak ,akhlak mulia siswa setidaknya
mengarah pada dua hal, seperti yang diungkapkan John Clark bahwa pendidikan
moral (akhlak).” Dengan demikian, jelas bahwa disebutkan dalam pembinaan
akhlak itu minimal berkaitan dengan akuisisi kedua kualitas pribadi yang
ditandai dengan kepemilikan kebajikan (misalnya, kepedulian, jujur, setia) dan
menjauhkan diri dari kejahatan (misalnya, keserakahan, nafsu, berbohong).
Tujuan
pembinaan akhlak mulia siswa berkaitan erat dengan tujuan pendidikan Islam. Ini
erat kaitannya dengan tujuan inti dari pendidikan Islam yaitu membentuk akhlak mulia siswa berdasarkan ajaran kitab
suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Dalam pendidikan Islam terdapat empat
tahapan tujuan yaitu: 1) tujuan tertinggi/terakhir, 2) tujuan umum, 3) tujuan
khusus,
2Tujuan Pendidikan
Jasmani (al-Ahdaf al-Jismiyah)
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi,
melalui keterampilan-keterampilan fisik. Ia berpijak pada pendapat dari Imam
Nawawi yang menafsirkan “al-qawy” sebagai kekuatan iman yang
ditopang oleh kekuatan fisik, (QS.al-Baqarah : 247, al-Anfal :60).
3 Tujuan Pendidikan
Rohani (al-Ahdaf al-Ruhaniyah)
Meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepada
Allah SWT semata dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi
SAW dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam al-Qur’an (QS. Ali Imran :
19). Indikasi pendidikan rohani adalah tidak bermuka dua ( QS. Al-Baqarah :
10), berupaya memurnikan dan menyucikan diri manuisa secara individual dari
sikap negatif (QS al-Baqarah : 126)
4 Pembinana seni persoalan
pengabaian pokok seni budaya islam tersebut tidak lain karena derasnya pengaruh
karya seni budaya masyarakat sekuler dan masyarakat modren yang tampak suda
demikian materias dan biologis. Tumpuan
dan perhatian dan fokus dari karyaseni dan budayanya adalah kecantikan dan
penampilan luar,sudah dapat dibayangkan betapa suatu proses pendidikan yang
terlepas dari kebudayaan dalam masyarakat tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar