Pembelajaran
kooperatif atau cooperative learning
dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget
dan Vygotsky. Berdasarkan penelitian
Piaget yang pertama, dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran
anak (Ratna, 1988: 181, dalam Abdul Majid).
Dalam
pembelajaran kooperatif, guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi
sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan
siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa, tetapi harus
membangun dalam pikirannya juga. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan
pengetahuan langsung dalam menerapkan ide-ide mereka. Hal ini merupakan
kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri.
Piaget dan
Vigotsky mengemukakan adanya hakikat sosial pada sebuah proses belajar, juga
mengemukakan tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan
anggota-anggotanya yang beragam sehingga terjadi perubahan konseptual. Piaget
menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif dan pengetahuan di susun dalam
pemikiran siswa. Oleh karena itu, belajar adalah tindakan kreatif di mana
konsep dan kesan dibentuk dengan memikirkan objek dan peristiwa, serta bereaksi
dengan objek dan peristiwa tersebut.
Selain
aktivitas dan kreativitas yang diharapkan dalam sebuah proses pembelajaran,
juga dituntut interaksi yang seimbang. Interaksi yang dimaksud adalah adanya
interaksi atau komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa,
dengan harapan terjadi komunikasi multi arah dalam proses pembelajaran.
Pandangan
konstuktivisme Piaget dan Vigotsky dapat berjalan berdampingan dalam proses
pembelajaran konstruktivisme. Piaget yang menekankan pada kegiatan internal
individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman yang dimiliki orang
tersebut, sedangkan konstruktivisme Vigotsky menenkankan pada interaksi sosial
dan melakukan konstruksi pengetahuan dari lingkungan sosialnya. Berkaitan dngan
karya Vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivis menekankan pentingnya
interaksi dengan teman sebaya melalui pembentukan kelompok belajar, dan siswa
diberikan kesempatan secara aktif untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan
kepada temannya. Hal itu akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan jelas,
bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.
B. Pengertian Model
Pembelajaran Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif adalah model
pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif (cooperative
learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan
bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya
terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat
heterogen.
Pada
hakikatnya, pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu,
banyak guru yang menyatakan tidak ada sesuatu yang aneh dala cooperative learing, karena mereka telah
biasa melakukan pembelajaran cooperative
learning dalam bentuk belajar kelompok, walaupun tidak semua belajar
kelompok disebut cooperative learning
.
Dalam
pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu
interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan
siswa, dan siswa dengan guru (multi way
traffic communication). Dalam model ini, siswa memiliki dua tanggung jawab,
yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok
untuk belajar. Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka
dapat melakukannya seorang diri.
Pembelajaran
kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar
pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang
dilakuan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran
kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih
efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar
dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling belajar dengan sesama siswa lainnya.
Pembelajaran oleh rekan sebaya lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru.
C. Sintak model
pembelajaran Cooperative Learning
Terdapat enam langkah utama atau tahapan cooperative
learning, yaitu:
1. Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
2. Guru
menyampaikan informasi dan bahan bacaan kepada siswa.
3. Siswa
dikelompokkan dalam tim-tim belajar
4. Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas
5. Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6. Guru mencari
cara-cara untuk menghargai upaya atu hasil belajar individu maupun kelompok.
D. Model
pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw
Ditinjau dari sisi etimologi, jigsaw berasal dari bahasa inggris
yang berarti “gergaji ukir”. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah fuzzle
yaitu sebuah teka-teki yang menyusun potongan gambar. Pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji
(jigsaw) yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan
siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.
Pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik
beratkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti yang
diungkapkan Lie (1993:73) bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini merupakan model belajar
kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6
orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif,
serta bertanggung jawab secara mandiri. Materi pelajaran diberikan pada siswa
dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian
tertentu dari bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain mendapat
tugas topik yang sama,yakni berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut.
Kelompok ini disebut kelompok ahli
E. Sintak model
pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw
Menurut
Stepen, Sikes dan Snapp (1978) yang dikutip Rusman (2008), mengemukakan
langkah-langkah cooperative tipe jigsaw sebagai berikut:
1. Siswa
dikelompokkan sebanyak 1 sampai 5 orang siswa.
2. Tiap orang
dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.
3. Tiap orang
dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
4. Anggota dari
tim yang berbeda telah mempelajari sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok
baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
5. Setelah
selesai diskusi, sebagai tim ahli tiap anggota kembali kepada kelompok asli dan
bergantian mengajar teman satu timnya tentang sub bab yang mereka kuasai, dan
tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama.
6. Tiap tim
ahli mempresentasikan hasil diskusi
7. Guru memberi
evaluasi
8. Penutup
Adapun kegiatan yang
dilakukan sebagai berikut:
1.
Melakukan kegiatan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh
topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan infornmasi untuk
poermasalahan tersebut.
2.
Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan
yang sama bertemu dalam satu kelompok, atau disebut dengan kelompok ahli untuk
membicarakan topik permasalahn tersebut.
3.
Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan
hasil yang didapatkan dari diskusi tim ahli.
4.
Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.
5.
Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok.
F. Kelebihan
dan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki
kelebihan dan kekurangan (Ibrahim, dkk. 2000:70-71). Di antara kelebihannya
adalah:
1.
Dapat memberikan kesempataan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa
lainnya
2.
Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan
3.
Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya
4.
Dalam proses belajar mengajar, siswa saling ketergantungan positif
5.
Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.